Maman*, aku ulang tahun.
July 10th, 2011 § 2 Comments
Masih teringat sewaktu berpamitan pada kedua orangtua tadi pagi. Ibu selalu ingat ulang tahunku , meski dia selalu lupa ulang tahunnya sendiri. Berbeda dengan tadi pagi… Berita duka dua kali datang ke keluargaku dalam satu bulan ini. Pakde ku (kakak pertama ibuku) meninggalkan kami karena lever yang berubah menjadi kanker. Keluarga kami berduka. Rumah Beliau yang selalu kami datangi ketika lebaran Idul Fitri maupun lebaran Idul Adha. Rumahnya juga yang selalu kami keluhkan karena jauh dan selalu macet ketika arah pulang. Aku melihat ibuku matanya sembap setelah sekian lama tidak menangis. Kalau tidak salah ketika nenekku meninggal, ketika umurku masih belasan.
Yang ku ingat tentang pakde ku, jika kami tidak saling berkunjung dalam jangka waktu lama, maka beliau akan menelpon kami. Menanyakan kabar kami. Sejak beliau sakit, ibuku rutin menelponnya. Ibuku terbilang paling dekat dibandingkan dengan yang lain. Ibuku anak kelima dari lima bersaudara. Ibuku bukan adik yang selalu nurut apa kata kakak-kakaknya. Ibuku selalu punya pendapatnya sendiri. Ibuku pun seorang ibu rumah tangga terbaik yang pernah ku kenal. Ibuku memang bekerja dirumah. Tapi dia bukannya ibu-ibu yang hanya bisa rumpi dan menonton tivi.
Ibuku selalu membangunkanku untuk solat shubuh. Kemudian Beliau membuang sampah ke tempat pembuangan sampah besar diujung jalan tanpa beralaskan sandal. Demi kesehatan katanya. Kalimat pertamanya ketika aku keluar kamar adalah menu sarapan apa yang kuinginkan hari itu. Apapun pintaku sebisa mungkin Beliau carikan. Ibuku berbeda dengan orang tua sekitarku yang kulihat suami atau anak-anaknya mencari sarapan sendiri. Setelah anggota keluarga sudah ditanyakan menu sarapannya, Beliau pergi ke pasar. Sebelum itu juga menanyakan menu apa yang ingin kami dapatkan pada hari itu. Ibuku jarang sekali sarapan, katanya perutnya selalu tidak enak kalau makan pagi-pagi. Setelah itu, lanjut ke aktifitas cuci baju. Hingga kini, rumah kami tidak pernah tersentuh oleh pembantu. Menurut orang tuaku lebih baik uangnya dikasih ke anak. Selagi bisa melakukannya sendiri kenapa harus meminta orang lain. Setelah itu, baru ibuku mandi dan istirahat sejenak. Karena sekarang harus mengurus keponakanku yang pintar itu, jam istirahat Ibuku disamakan dengan jam tidur keponakanku. Kebayang kalau Raka gak mo bobo siang. Selagi mengurus Raka, Beliau masih bisa menangani dapur dan beberes rumah di sore hari. Vous pouvez imaginer? Makanya, sekarang kalau week-end kami menuruti kemanapun Ibuku ingin pergi.
Berbeda dengan tadi pagi, Ibuku meminta maaf lupa memberiku selamat ulang tahun. Pagi itu harus ku ingatkan. Pagi tadi juga yang membuat ulang tahunku mengharu biru. Ibuku msih berduka karena sehari sebelumnya, kakak keduanya (bude) meninggalkan kami. Beliau dengan cepat meninggalkan kami. Penyakitnya terindikasi tumor ganas di pankreasnya. Lalu positif sudah berada di stadium empat. Jarak waktu tervonis sangat dekat. Belum ada empat puluh hari pakde, kami kehilangan satu anggota keluarga lagi. Ucapan ulang tahunku dari Ibuku berbeda. Ibuku gemetar ketika mengucapkannya. Beliau berpesan semoga urusanku beres bulan ini dan memintaku membacakan surat yasin untuk bude ku. Sampai kalimat ini selesai diketik, aku masih menangis. Teringat ekspresi muka Ibuku tadi pagi. Betapa beruntungnya aku dilahirkan dari rahimnya. Mungkin aku berani bilang, betapa beruntungnya Bapakku menjadi suaminya, betapa beruntungnya kakak-kakakku dilahirkan duluan.
Betapa dosanya aku belum bisa memberikan undangan wisuda. Betapa bersalahnya aku belum bisa memberikan suatu kebanggaan yang bisa Beliau pamerkan keteman-temannya.
Pintaku hari ini ku persembahkan ke kedua orangtua ku. Berikanlah mereka umur panjang, Tuhan. Istirahatkan lah sejenak keluarga ku dari berita duka. Amin.
6 Juli 2011
*maman [mamong] = ibu
makasi ya udah sering mampir pak asop
.